Kontak WA: 085317031333

Menghargai “Dunia” Orang Lain

Apa sih manfaatnya belajar NLP ? Dahulu saya Lama sekali berkecimpung dalam teknik Meditasi dan Self Hipnosis mulai dari tahun 1977 saat masih di SMA, dan kemudian baru di tahun 2007 mulai mempelajari Hipnoterapi dan akhirnya belajar NLP… ternyata manfaat yang dicapai banyak sekali…. untuk info lanjut bisa kontak saya di 085317031333 atau di www.bandunghipnotraining.org atau www.bandunghipnotraining.com

Sesungguhnya setiap orang hidup dalam ‘dunia’nya masing-masing?

lho? maksudnya bagaimana?

Pernahkah Anda ngobrol dengan orang lain dan nggak nyambung? padahal Anda membicarakan topik yang sama….

Atau mungkin Anda berdebat kusir dengan teman Anda, membicarakan masalah yang sama namun tidak bertemu pada satu kesepakatan yang sama?

Yup… karena tiap orang memang memiliki ‘dunia’nya masing-masing.

Pikiran manusia unik, berisi informasi-informasi yang membangun program tertentu. Namanya juga program, pasti memiliki cara kerja tertentu dan menghasilkan output tertentu. Dari mana informasi di dalam pikiran berasal? tentu dari informasi yang sudah pernah masuk sebelumnya.

Seperti yang sudah saya ceritakan pada artikel sebelumnya mengenai citra diri. Pikiran manusia sangat terbuka terhadap informasi pada usia manusia antara 0-16 tahun. Pada usia 16 tahun, filter pikiran terbentuk secara sempurna, sehingga informasi yang masuk pun tidak lagi sebebas sebelumnya.

Informasi yang membentuk program, akhirnya menghasilkan sebuah Map.

The Map is not the Territory

Peta Jakarta, tentu berbeda dengan Kota Jakarta sesungguhnya. Perbedaannya pun banyak! ukuran. tekstur, warna, dan banyak lagi.

Jika pikiran kita berisi Map, maka tentu berbeda dengan Territory atau kondisi sesungguhnya dari apa yang kita pikirkan.

Misalnya, saat Anda melihat berita dan menemui kasus pencurian. Anda mungkin berpikir, “Jahat sekali pencuri itu! mengambil yang bukan haknya”, itulah Map kita. Apakah Territory sesungguhnya sama? pada kenyataannya, sang pencuri tidak sejahat yang diperkirakan, karena ia mencuri demi mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit keras, setelah sebelumnya bolak-balik mengajukan permohonan keringanan biaya ke berbagai rumah sakit karena tidak mampu, dan semua ditolak, padahal ibunya harus segera dioperasi.

Apa yang kita pikirkan terhadap pencuri itu adalah ‘dunia’ kita, yang tentu bukanlah hal buruk, karena kita berpegang pada prinsip kebenaran, bahwa mengambil hak orang lain adalah salah. Itu adalah pandangan yang sangat baik. Di satu sisi, pencuri itu memang salah karena mencuri, namun ia hidup dalam ‘dunia’nya, yang menghasilkan perilaku sebuah upaya menyelamatkan ibunya yang sakit keras dan terancam nyawanya, dimana sang pencuri seakan tidak mempunyai jalan lain untuk mengobati ibunya.

“Kan bisa berhutang? atau bisnis lah….. untuk mempersiapkan aset masa depan!” ada yang berpikir begitu? ya, itulah “dunia’ Anda, bukan ‘dunia’ sang pencuri. Informasi dalam pikiran sang pencuri bisa jadi tidak ada yang mendukung ke arah sana, karena tidak pernah menerima pendidikan ke arah sana, atau tidak pernah terpikirkan karena programnya memang tidak ada. Ya mau bagaimana lagi, itulah ‘dunia’nya.

Setiap orang hidup dalam ‘dunia’ masing-masing, karena kepala setiap orang berisi informasi yang berbeda-beda, dilatarbelakangi masa lalu yang berbeda pula. Maka wajar terkadang Anda berdebat kusir tanpa bertemu pada satu solusi yang sama, karena ‘dunia’ Anda dan lawan debat Anda sudah berbeda, atau dalam istilah kerennya Beda Dunia ^_^

Apakah semua ‘dunia’ adalah benar ? tergantung landasan dari pandangan Anda. Namun, bagi saya yang seorang Muslim, benar tidaknya harus dilihat dari apakah melanggar Syari’at Islam atau tidak.

Namun, memandang hitam dan putih tentu bukanlah tindakan bijaksana. Jika pencuri yang saya ceritakan tadi langsung dihukum saja, tanpa pertimbangan bahwa apa yang dia lakukan adalah upaya menyelamatkan ibunya, maka itu tidak akan menyelesaikan masalah secara tuntas. Kalaupun negara memenjarakan sang pencuri, minimal negara pun menyantuni ibunya dan membantu pengobatan yang dibutuhkan. Itulah yang dimaksud “Memahami ‘Dunia’ Orang Lain”. Sebelum melakukan justifikasi dan penilaian, marilah kita belajar untuk memahami, sebenarnya ada maksud apa di balik perilaku seseorang, atau ada hal apa di balik apa yang orang lain katakan. Dalam debat, cobalah kita memulai untuk memahami mengapa lawab bicara kita berpendapat seperti ini dan itu. Dari situ kita pun belajar untuk mengendalikan prasangka kita, dan dapat mengarahkan diri kita kepada sikap ‘berprasangka baik’ dan ‘berpikir positif’.

Berpegang pada ‘dunia’ kita, dan menghormati serta menghargai ‘dunia’ orang lain. Berpegang pada ‘dunia’ kita agar kita senantiasa tetap memiliki landasan berpikir dan terhindar dari sikap plin plan. Menghormati serta menghargai ‘dunia’ orang lain dalam rangka membantu kita menemukan solusi terbaik dalam rangka hubungan kita dengan orang lain, mengendalikan prasangaka dan pikiran kita, dan dalam taraf kebutuhan lain, dengan mulai memahami ‘dunia’ orang lain, orang tersebut akan bersedia memahami ‘dunia’ kita juga sehingga hubungan bermasyarakat menjadi lebih harmonis. diambil dari Surya K. page. www.HipnoNLP.com

SUKA dengan info ini? ,Silahkan Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pelatihan Hipnoterapi hemat dan Lengkap di Bandung fleksibel bisa dipanggil di tempat anda